Halaman

April 23, 2011

BANJIR : PENYEBAB DAN PENANGANNYA

BANJIR : PENYEBAB DAN PENANGANNYA

Oleh : Heni Ari Putranti 254 10 027
PL 5201 Sumber Daya & Lingkungan, Magister PWK 2010, SAPPK - ITB
1. Pendahuluan
Sepanjang sejarah bencana alam, didapati hal yang mungkin cukup mengejutkan bahwa ternyata bencana alam yang paling mematikan adalah banjir (http://www.bionomicfuel.com). Dari http://en.wikipedia.org didapati fakta – fakta yang cukup mencengangkan mengenai berapa luas dan berapa sering banjir terjadi di dunia. Dilihat secara kronologis catatan peristiwa banjir pada laman tersebut dapat ditelusuri ke belakang hingga awal abad keduapuluh, lengkap dengan jumlah korban jiwa maupun material. Tidak kurang dari 64 banjir yang menjadi berita internasional sejak seratus tahun terakhir dengan jumlah korban jiwa dan material yang tidak terhitung lagi banyaknya. Pada laman yang sama mencatat pengelompokan peristiwa banjir berdasarkan wilayah, yang meliputi Afrika, Asia (Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara), Eropa (Eropa Barat dan Eropa Timur), Amerika Utara (Canada & US), Amerika Selatan dan Oseania (Australia, New Zeland dan Kepulauan Fiji). Catatan tersebut menunjukkan betapa luas cakupan peristiwa banjir yang melanda, dan terlihat bahwa tidak ada satu-pun wilayah yang bebas dari bencana yang namanya banjir.
http://www.bionomicfuel.com mencatat peristiwa banjir paling mematikan sepanjang sejarah. Banjir yang disebabkan oleh angin ribut dan topan tidak dimasukkan dalam daftar. Berdasarkan tahun terjadinya banjir sebagai berikut :
1. Banjir di Inggris dan Belanda – 1099, yang merupakan kombinasi dari badai dan pasang tinggi menciptakan sebuah peristiwa banjir besar di Belanda dan di sungai Thames di Inggris, menewaskan 100.000 orang.
2. Banjir di Belanda – 1287, terjadi pada dataran yang berada lebih rendah dari polder, karena kerusakan pada dinding pantai di Zee Zuider, membunuh 50.000.
3. Banjir di Belanda – 1421, menewaskan 10.000 orang.
4. Banjir Sungai Huang He (Kuning), Cina – 1642, merupakan salah satu banjir terburuk yang pernah ada di sungai ini, dengan angka kematian saat ini sekitar 300.000 orang.
5. Banjir Sungai Neva, Rusia – 1824. Ini mungkin bukan banjir terburuk yang pernah, dengan korban kematian hanya 10.000. Namun, tercatat sebagai yang terburuk yang pernah terjadi di Rusia. Banjir berasal dari bendungan es yang menyumbat sungai, dan kota-kota di dekatnya hancur.
6. Banjir Sungai Huang He (Kuning), Cina - 1887. Ini mungkin bukan banjir yang terburuk yang pernah ada, tapi korban tewas masih mencapai 900.000 - 2.000.000 jiwa.
7. Banjir Sungai Huang He (Kuning), Cina - 1931. Karena terletak pada hamparan luas jelas bahwa Sungai Kuning itu sangat rawan terhadap banjir. Sampai tahun 1931 sungai initelah membanjiri lebih dari 1.000 kali. Jumlah korban tewas pada tahun diperkirakan antara 1.000.000 - 3.700.000.
8. Banjir Sungai Huang He (Kuning), Cina - 1938. Sungai Kuning beraksi lagi, dengan korban kematian 500.000 - 9.00.000 jiwa.
9. Banjir Sungai Ru Sungai dan Dam Banqiao, Cina - 1975. Ini adalah salah satu banjir terburuk dalam sejarah yang diikuti hujan deras, yang menyebabkan Dam Banquia runtuh. 230.000 orang tewas dalam banjir ini.
Di Indonesia data dari Badan Nasionas Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dapat diakses di website http://dibi.bnpb.go.id, sebagaimana diperlihatkan pada bagan berikut, tercatat bahwa sejak tahun 1815 – 2011 (Bulan Maret) frekuensi bencana yang paling besar adalah banjir (31%), disusul kebakaran (17%), kekeringan (13%), angin topan dan longsor masing – masing 12 %, sedangkan frekuensi kejadian bencana lainnya dibawah 3%.
Dari sumber yang sama didapatkan peta kejadian banjir di indonesia, sejak tahun 1979 sampai 2009, sebagaimana gambar berikut :
Melihat fakta – fakta diatas, menarik untuk mengetahui sebenarnya apa saja yang menyebabkan terjadinya banjir dan bagaimana upaya – upaya pengelolaan serta bagaimana keterkaitannya dalam perencanaan wilayah. Paper ini ditulis untuk memenuhi keingintahuan tersebut, serta untuk memenuhi tugas pengganti UTS untuk Mata Kuliah Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
2. Banjir : Pengertian dan Jenisnya
Berdasarkan asal kata, definisi banjir paling tidak dapat dilihat banjir sebagai verba atau kata kerja dan banjir sebagai nomina atau kata benda. Banjir sebagai verba diartikan sebagai “berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap”, sebagai nomina, banjir didefinisikan sebagai “air yg banyak dan mengalir deras; air bah”, definisi nomina yang lain ditinjau dari istilah geografi, banjir berarti “peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat” (http://www.artikata.com/arti-320657-banjir.html). Banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran (SK SNI M-18-1989-F, 1989 dalam Suparta, 2004). Pengertian banjir yang dikeluarkan oleh Parlemen Uni Eropa dalam Directive 2007/60/EC, 23 October 2007 mengenai ”The assessment and management of flood risks“ adalah penutupan sementara oleh air, daratan yang biasanya kering (http://en.wikipedia.org/wiki/Floods_directive).
Dari beberappa pengertian diatas, pada paper ini banjir didefinisikan sebagai :peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering, sebagai akibat dari meningkatnya volume air permukaan yang tidak mampu ditampung oleh sungai dan / atau saluran air yang ada di kawasan / daerah tersebut dan hanya bersifat sementara”.
Menurut ahli hidrologi, banjir-banjir di indonesia dibagi menjadi tiga jenis
Luapan Sungai, biasanya terjadi akibat dari sungai tidak mampu lagi menampung aliran air yang ada disungai itu akibat debit airnya sudah melebihi kapasitas.
Banjir lokal, banjir ini merupakan banjir yang terjadi akibat air yang berlebihan ditempat itu dan meluap juga ditempat itu. Pada saat curah hujan tinggi dilokasi setempat dimana kondisi tanah dilokasi itu sulit dalam melakukan penyerapan air (bisa karena padat, bisa juga karena kondisinya lembab, n bisa juga karena daerah resapan airnya tinggal dikit) maka kemungkinan terjadinya banjir lokal akan sangat tinggi sekali
Banjir akibat pasang surut air laut, saat air laut pasang, ketinggian muka air meningkat, sehingga aliran air di bagian muara sungai akan lebih lambat, bila aliran air sungai sdah melebihi kapasitasnya (ditempat yang datar atau cekungan) maka air menyebar dan terjadilah banjir.
3. Banjir : Penyebabnya
Kodoatie & Sugiyanto, 2002 secara umum mengklasifikasikan penyebab banjir dalam 2 (dua) kategori, yaitu: banjir yang disebabkan oleh sebab-sebab alami dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan manusia. Yang termasuk sebab – sebab alami antara lain :
a) Curah Hujan
Pada musim penghujan, curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai, dan bilamana melebihi tebing sungai, maka akan timbul banjir atau genangan, termasuk bobolnya tanggul.
b) Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah pengaliran sungai (DPS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang sungai : lebar, kedalaman, potongan memanjang dan material dasar sungai) mempengaruhi terjadinya banjir.
c) Erosi dan Sedimentasi
Erosi yang terjadi di sepanjang DPS berpengaruh pada pengurangan kapasitas penampang sungai, sehingga timbul genangan dan banjir. Erosi dan sedimentasi ini menjadi masalah besar pada sungai – sungai di Indonesia.
d) Kapasitas Sungai
Pengurangan kapasitas sungai, sebagaimana disebutkan pada poin diatas dapat disebabkan oleh erosi yang terjadi sepanjang DPS yang mengakibatkan terjadinya sedimentasi (pendangkalan). Selain itu, kitiadaan vegetasi penutup sepanjang DPS dan penggunaan lahan yang tidak tepat juga bisa menjadi penyebab berkurangnya kapasitas sungai.
e) Kapasitas Drainase Yang Tidak Memadai
Hampir semua kawasan perkotaan di indonesia mempunyai jaringan drainase yang buruk dan kapasitas yang tidak memadai untuk menampung limpasan aliran permukaan. Sehingga tidak mengherankan jika banjir adalah bencana langganan di kota-kota tersebut.
f) Pengaruh Air Pasang
Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Pada saat terjadi banjir yang bersamaan dengan pasang yang tinggi menyebabkan kawasan tergenang semakin luas akibat terjadiny aliran balik (back water).
Sedangkan yang termasuk dalam sebab-sebab banjir karena tindakan manusia antara lain :
a) Perubahan Kondisi Saerah Pengaliran Sungai
Perubahan kondisi DPS, seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota dan perubahan tata guna lahan lainnya dapat memperburuk masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari beberapa persamaan yang ada, menunjukkan bahwa perubahan guna lahan memberikan kontribusi yang besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir.
b) Kawasan Kumuh
Pemukiman kumuh di sepanjang sungai dapar menjadi penghambat aliran maupun daya tampung sungai. Kawasan kumuh ini dikenal sebagai faktor penting dalam masalah banjir di perkotaan.
c) Sampah
Perilaku penduduk/masyarakat yang tidak disiplin dalam membuang sampah domestik, dimana mereka langsung membuang ke sungai, atau saluran drainase menyebabkan penyumbatan pada aliran tersebut sehingga banjir terjadi karena permukaan air yang meninggi akibat dari alirannya yang terhambat sampah.
d) Drainasi Lahan
Drainasi perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah bantuan banjir akan mengurangi kemampuan bantaran sungai dalam menampung debit air limpasan permukaan yang tinggi.
e) Bendungan dan Bangunan Air
Bendung dan bangunan lain seperti pilat jembatan dapat meninggikan elevasi muka air sebagai akibat dari efek aliran balik (back water).
f) Kerusakan Bangunan Pengendali Banjir
Kurangnya pemeliharaan pada bangunan pengendali banjir bisa menimbulkan kerusakan, sehingga mengurangi fungsi bangunan pengendali banjir. Hal ini menyebabkan meningkatnya kuantitas banjir, yang semestinya dapat dikendalikan dengan bangunan pengendali banjit yang berfungsi baik.
g) Perencanaan Sistem Pengendali Banjir yang Tidak Tepat
Sistem pengendali banjir memang dapat mengurangi kerusakan akibat banjir, namun perencanaan yang tidak tepat dapat mengakibatkan dampak yang lebih besar lagi.
Maryono, 2005 mengelompokkan penyebab banjir menjadi 5 (lima) faktor utama yaitu : Faktor Iklim ekstrim (Kemarau ekstrim atau hujan ekstrim), Penurunan daya dukung DAS, Faktor pola pembangunan sungai, Faktor kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan kawasan, Faktor kesalahan konsep drainasi dan Faktor sosio – hidraulik.
Faktor iklim ekstrim yang dimaksudkan misalnya kemarau yang panjang, atau hujan badai ekstrim yang dipengarui oleh iklim makro global. Misalnya El Nino – La Nina yang yang bergerak di Kepulauan Indonesia dan Panama – Chile. Kondisi iklim ekstrim tidak dapar dielakkan dan dikategorikan sebagai natural disaster yang sulit diatasi karena penyebabnya yang bersifat global.
Buruknya daya dukung DAS juga merupakan faktor dominan yang menyebabkan terjadinya banjir. Rendahnya daya dukung DAS dapat ditandai dengan perubahan guna lahan, semakin mengecilnya areal hutan, tidak terurusnya lahan pertanian dan semakin luasnya lahan untuk hunian dan sarana / prasarana serta makin luasnya areal/lahan kritis.
Nirmalisasi, pelurusan badan sungai, sodetan, pembuatan tanggul sisi, pembetonan tebing sungai dan perkerasan penampang melintang sungai adalah bentuk-bentuk pembangunan sungai yang memberikan kontribusi pada terjadinya banjir. Penerapan rekayasa teknologi pada sungai sebagaimana disebutkan diatas selain merusak keseimbangan hidraulika alamiah, juga merusak ekosistem sepanjang sungai.
Perencanaan wilayah yang “dipercayakan” pada ahli perencana yang hanya “sedikit” menguasai permasalahan sungai, kekeringan, banjir dan ekologi dinyatakan Maryono sebagai bentuk dari kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan wilayah, karena rencana yang dihasilkan belum memasukkan faktor konservasi sumber daya air menjadi faktor yang dominan. Sebagai akibatnya adalah penyebaran kota – kota di Indonesia yang terjadi secara horizontal, sehingga terjadi pengurangan luasan DAS yang sangat drastis.
Sosio-hidraulik diartikan sebagai kepahaman sosial tentang masalah yang berkaitan dengan keairan dan konservasinya. Selama masyarakat desa dan kota belum memahami keterkaitan antara daerah hulu dan hilir, dan segala keterkaitannya, maka sosio-hidraulik belum tercapai. Sedangkan untuk dapat menyelenggarakan upaya penanganan banjir dan kekeringan sosio-hidraulik ini akan apat memainkan peran yang sangat penting, karena masyarakatlah yang merasakan akibar dari bencana yang terjadi.
Dari uraian mengenai penyebab banjir diatas, meskipun disampaikan dengan cara yang berbeda, namun baik Kodoatie & Sugiyanto, 2002 maupun Maryono, 2005 sepakat bahwa penyebab banjir ada yang disebabkan oleh faktor alamiah maupun akibat dari ulah manusia.
4. Tinjauan Banjir dalam perencanaan wilayah
Dalam Lokakarya Banjir dan Longsor yang diselenggarakan pada tangal 11 Februari 2008, disebutkan bahwa, Banjir dan longsor merupakan bencana yang predictable disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor alam dan kegiatan manusia yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya daya alam yang menyebabkan menurunnya fungsi hdrologis ekosistem DAS. Kata kuncinya disini adalah “Predictable”, atau dapat diperkirakan terjadinya karena merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan oleh manusia dan atau kejadian alam yang dapat diamati dan diperkirakan kapan terjadinya.
Kata kunci tersebut membawa kita pada peran perencanaan wilayah dalam mengelola banjir. Jika mengadopsi kata kunci tersebut maka banjir (dan longsor) dapat di “atasi” dengan melakukan serangkaian perencanaan terkait dengan pengelolaan banjir. Disinilah peran atau keterkaitan banjir dengan perencanaan wilayah dapat di identifikasikan. Secara singkat adalah bahwa dalam perencanaan wilayah, banjir baik dibaca sebagai bencana alam maupun sebagai peristiwa terprediksi harus dimasukkan sebagai salah satu unsur yang harus diperhatikan, mulai dari proses pencegahan dengan tindakan-tindakan pelestarian lingkungan, mitigasi yaitu dengan melakukan prediksi dan kalkulasi serta rencana tindak dengan asumsi banjir terjadi, reaksi pada saat terjadi babjir hingga pemulihan pasca banjir. Pengelolaan dan pengendalian banjir akan disajikan lebih rinci pada sub bahasan berikut ini.
5. Banjir : Pengelolaannya
Pengelolaan Banjir terpadu : Proses keterpaduan pengelolaan banjir melalui pendekatan pengelolaan tanah dan sumber daya air, daerah pesisir pantai dan pengelolaan daerah bencana pada suatu DAS dengan memaksimalkan keuntungan daerah bantaran banjir dan meminimumkan kehilangan nyawa dan kerusakan harta benda (Green dkk, 2004, dalam Kodoatie & Syarief 2010)
Pengelolaan Banjir Terpadu : Penanganan integral mengarah pada semua stakeholders dan pengelolaan banjir sub sektor ke sektor silang (Kodoatie & Syarief 2006, dalam Kodoatie & Syarief 2010). Proses tersebut merupakan implementasi ilmu pengetahuan (aplikatif) yang mencari, dengan observasi sistematis dan analisis banjir, untuk meningkatkan tindakan-tindakan (measures) yang terorganisir dan sistematis terkait preventif (pencegahan), Mitigasi (Pengurangan), Persiapan, Respon darurat dan pemulihan (Kodoatie & Syarief 2006, dalam Kodoatie & Syarief 2010).
Grigg, 1996 dalam Kodoatie & Sugiyanto, 2002 menyebutkan terdapat 4 (empat) strategi dasar dalam pengelolaan daerag banjir, yang meliputi :
1. Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan);
2. Modifikaso banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau normalisasi sungai;
3. Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi, penghindaran banjir (flood proofing);
4. Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan.
Sedangkan alat atau tools untuk keempat strategi dasar diatas dinyatakan Kodoatie, 2005 bahwa pada prinsipnya terdapat 2 (dua) metode penanganan banjir yaitu metode struktur dan non struktur. Dimasa lalu metode struktur menjadi pilihan utama dalam pengendalian banjir, namun pada saat ini banyak negara - negara maju, justru beralih ke metode non struktur. Lebih jelasnya kedua metode tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel Metode Pengendalian Banjir
Skala Prioitas
Metode
I
Metode Non Struktur
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai;
Pengaturan Tata Guna Lahan;
Pengendalian Erosi di DAS;
Pengembangan Daerah Banjir;
Pengaturan daerah Banjir;
Penangnan Kondisi darurat;
Peramalan banjir;
Peringatan bahaya banjir;
Asuransi;
Law Enforcement
dll
II
Metode Struktur : Bangunan Pengendali Banjir
Bendungan;
Kolam Retensi;
Check Dam;
Bangunan pengurang kemiringan sungai;
Groundsill;
Retarding basin;
Polder
dll
Skala Prioitas
Metode
III
Metode Struktur : Perbaikan dan Pengaturan Sistem Sungai
Sistem jaringan sungai;
Perbaikan sungai;
Perlindungan tanggul;
Tanggul banjir,
Sudetan (baypass);
Floodway
dll
Sumber : Kodoatie, 2005
Lebih lanjut, Kodoatie & Sugiyanto, 2005 menguraikan secara mendetail metode pengendalian banjir sebagaimana tersebut pada tabel diatas. Untuk penanggulangan banjir metode struktur (dengan bangunan), dinyatakan bahwa pada prinsipnya penanggulangan banjir meliputi kegiatan – kegiatan, pertama mengenali besarnya debit banjir, kedua mengisolasi daerah genangan banjir dan yang ketiga mengurangi tinggi elevasi air banjir.
Kegiatan penanggulangan banjir dengan bangunan pada umumnya mencakup kegiatan – kegiatan yaitu : Perbaikan sungan dan/atau pembuatan tanggul banjir untukmengurangi besaran resiko banjir di sungai; Pembuatan saluran (floodway) untuk mengalirkan sebagian atau seluruh air sungai; dan Pengaturan sistem pengaliran untuk mengurangi debit puncak banjir, dengan bangunan seperti bendungan, kolam retensi dll (Kodoatie & Sugiyanto, 2005).
Kegiatan pengelolaan dan perbaikan sungai untuk meningkatkan kapasitas sungai diperlukan untuk menunjang keberhasilan pengendalian banjir dengan menggunakan metode struktur. Kegiatan dimaksud antara lain : Menambah dimensi tampungan air; Memperkecil nilai kekasaran alur sungai; Pelurusan atau pemendekan alur sungai pada sungai yang berbelok-belok; dan Pengendalian transpor sedimen (Kodoatie & Sugiyanto, 2005).
Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan jenis bangunan pengendali banjir sebagai berikut (Kodoatie & Sugiyanto, 2005): Pengaruh regim sungai, terutama erosi dan sedimentasi serta hubungannya dengan biaya pemeliharaan; Kebutuhan perlindungan erosi dan daerah kritis; Pengaruh bangunan terhadap lingkungan; Perkembangan pembangunan daerah; Pengaruh bangunan terhadap kondisi aliran di sebelah hulu dan hilir.
Alternatif pengendalian banjir yang ditawarkan adalah dengan tanpa menggunakan bangunan, yang akan memberikan dampak yang lebih baik pada regim sungai dan pengurangan dampak ikutannya (potensi kerusakan ekosistem sungai, kekeringan dll).
Menutup bahasan penanggulangan banjir ini, disampaikan catatan penting dari hasil lokakarya banjir dan longsor yang diselenggarakan di jakarta pada 11 Januari 2008 sebagai bentuk dari keperdulian masyarakat luas akan bencana banjir yang terjadi di Indonesia.
Text Box: http://www.indonesia.go.id/id - REPUBLIK INDONESIA CATATAN PENTING HASIL LOKAKARYA BANJIR DAN LONGSOR Di JAKARTA, 8 JANUARI 2008 • Banjir dan longsor merupakan bencana yang predictable disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor alam dan kegiatan manusia yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya daya alam yang menyebabkan menurunnya fungsi hdrologis ekosistem DAS. Dalam kejadian banjir, hujan bukan satu-satunya penyebab banjir tetapi juga tergantung pada daya dukung lingkungan. Sedangkan tanah longsor sangat terkait dengan kerentanan gerakan tanah (faktor geologi) dan curah hujan. • Pemerintah telah berupaya melakukan perbaikan kondisi DAS melalui berbagai program dan kegiatan baik menyangkut kegiatan fisik di lapangan (rehabilitasi hutan dan lahan, bangunan struktural) maupun non fisik seperti penguatan kapasitas kelembagaan diberbagai tingkat dan pemberdayaan masyarakat, akan tetapi hasilnya masih belum memadai. • Penanggulangan bencana banjir dan longsor meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi. Penanggulangan banjir dan longsor tersebut tidak bisa dilakukan oleh hanya satu sektor atau satu departemen teknis saja, melainkan harus bersifat multisektor dan multi pihak serta melibatkan beberapa wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian diperlukan koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi (KISS) para pihak tersebut dalam tingkat perumusan kebijakan, perencanaan program, implementasi kegiatan dan penganggaran/ pembiayaannya, termasuk mengoptimalkan peran TKPSDA, Forum DAS, MKTI dan Masyarakat Hidrologi Indonesia. • Biaya rekunstruksi dan rehabilitasi pasca bencana relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk pencegahan dan dan mitigasi. Karena itu perlu penekanan pada upaya-upaya pencegahan dan kesiapsiagaan dengan cara mengurangi risiko bencana berupa : integrasi penanggulangan bencana dlm.pembangunan nasional, risk assessment dan system peringatan dini, membiasakan budaya keselamatan dan ketahanan/resilence, mengurangi faktor penyebab dasar bencana dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. - Strategi pencegahan dan penanggulangan banjir dan longsor antara lain : - Review RTRW berdasarkan kemampuan lahan, mempertimbangkan faktor geologi dan hidrologi DAS. - Pencegahan penyimpangan tata ruang - Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap para pelangar peraturan. - Klasifikasi sumberdaya lahan berdasarkan kemammpuannya - Penggunaan lahan berdasarkan kemampuan lahan - Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu (Grand Design/ Management Plan) dan Rencana Tindak. • Menerapkan teknologi konservasi tanah dan air secara memadai baik secara vegetative maupun structural. • Mempercepat pembuatan Undang-undang Konservasi Tanah, serta peraturan perundangan lainnya seperti Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan DAS Terpadu dan peraturan tentang System Standar Operasi Prosedur Pengendalian Banjir dan Tanah Longsor • Departemen terkait perlu memprogramkan pencegahan degradasi lahan dan rehabilitasi lahan rusak/kritis sebagai prioritas (mainstreaming) • Memasukkan materi pencegahan degradasi lahan/penerapan teknologi konservasi tanah dan air, serta pengelolaan DAS dalam kurikulum pendidikan dan latihan. • Dalam perencanaan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan DAS harus menggunakan data spatial/peta yang baik (memenuhi standar). Untuk itu diperlukan pembagian tugas dalam perpetaan baik antara pusat dan daerah maupun antar sektor/instansi di pusat serta pengembangan jaringan data spatial diantara instasi terkait, sehingga terjadi komunikasi antar para pihak berkepentingan yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan efisiensi. • Kejadian banjir di wilayah Indonesia pada Desember 2007 belum disebabkan oleh kondisi atmosfir yang ekstrim. Untuk perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya banjir yang lebih besar sampai bulan Januari Februari 2008. • Data peringatan dini tentang bencana alam sangat penting bagi banyak pihak, karena itu data tsb harus dapat diakses dengan mudah baik untuk perencanaan, (RPJMP) maupun dalam rangka kesiapsiagaan daerah dan masyarakat dalam mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi. Salah satu instrument dalam mengantisipasi bencana alam banjir dan longsor adalah “Pemberdayaan masyarakat dalam mitigasi banjir dan tanah longsor” yang dikembangkan oleh Badan Litbang Kehutanan. • Dalam KISS penanggulangan bencana banjir, longsor dan pengelolaan DAS perlu ditentukan siapa instansi yang memimpin (leader institution). Kemudian dalam implementasi kegiatan pemanfaatan lahan perlu ditetapkan hak dan kewajiban para pihak berkepentingan termasuk pemilik lahan. • Sangat diperlukan komitmen Pemerintah, Pemerintah Daerah dan para pihak lain yang berkepentingan (BUMN/BUMD/BUMS dan masyarakat) dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan pengelolaan DAS secara berkelanjutan.  Tim Notulis /Perumus : Dr. Saeful Rachman, MSc; Dr. Syaiful Anwar, MSc; Prof Totok Gunawan; Ir. Yuli Utami, MS; Ir. Nurul Iftitah, MSi
6. Banjir : Contoh Kasus Penanganan Banjir a la Jepang
Jepang dengan 75% daratannya ditutupi hutan dan sebagian besar berupa pegunungan, dimana setengah dari jumlah penduduk serta 75% aset negara berada pada dataran banjir menyebabkan Jepang berada pada kondisi yang rawan terhadap banjir. Namun Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki sistem pengendalian banjir yang sangat baik. Terbukti pada acara The 4 th World Water Forum, 2006, Mexico, Akira Terakawa (Acting Director of ICHARM, Public Works Research Institute. Tsukuba, Japan) menyampaikan presentasi yang berjudul Integrated Flood Management For Urbanised River Basin in Japan. Pada tayangan tersebut disampaikan gambaran bagaimana Jepang mengatasi Banjir. Sebenarnya jepang juga menggunakan metode standar dalam penanganan banjir yaitu terdiri dari tindakan preventif (pencegahan), Mitigasi (Pengurangan), Persiapan, Respon darurat dan pemulihan sebagaimana bagan berikut.
Sumber : Terakawa, 2006
Lebih khusus, Terakawa menyampaikan Rencana Perbaikan Cekungan sebagai upaya pengendalian banjir di jepang dengan konsentrasi pada 3 (tiga) area utama yaitu : Kawasan Resapan (retention area), Kawasan Penyangga (detention area) dan Kawasan Dataran Rendah (low lying area). Untuk kawasan resapan dilakukan empat hal yaitu : Melakukan pengendalian urbanisasi pada distrik yang termasuk dalam kawsan resapan; Melakukan konservasi alam; Membangun reservoir (penampungan air) dan pengaturan daerah cekungan; serta penggunaan jenis konstruksi yang dapat memungkinkan terjadinya penyerapan (paving dan lubang-lubang / poro-pori untuk resapan air). Kebijakan untuk kawasan penyangga antara lain : pemeliharaan zona kendali urbanisasi; Pengendalian kegiatan penimbunan tanah; dan Peningkatan kondisi yang mendukuh kegiatan pertanian. Untuk Kawsan Dataran Rendah dilakukan pembangunan fasilitas drainase, pembangunan fasilitas tempat penyimpanan dan mendukung pemakaian bangunan anti banjir (flood-proof buildings).
Untuk pembangunan saluran drainase, kuncinya adalah ukuran saluran yang besar di bawah tanah yang menjamin semua air hujan disalurkan ke laut sehingga tidak ada banjir saluran bawah tanah ini berada di sebagian besar daerah di jepang.
Daftar Pustaka
Buku :
Kodoatie, Robert. J & Syarier, Rustam. 2010. Tata Ruang Air, Yogyakarta, Penerbit ANDI
Kodoatie, Robert.J. Dr. M.Eng. Ir & Sugiyanto, M.Eng. Ir. 2002. Banjir : Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya, dalam perspektif lingkungan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Kodoatie, Robert.J. Ph.D. 2005. Pengantar Manajemen Infrastruktur. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Maryono, Agus. 2005. Menangani banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Publikasi Lain :
Terakawa, Akira. Acting Director of ICHARM, Public Works Research Institute. Tsukuba, Japan. Integrated Flood Management For Urbanised River Basin in Japan. A presentation delivered in The 4 th World Water Forum, 2006, Mexico.
Website :
Links :
http://www.zeeland.nl/digitaalarchief/ZEE0800655

Tidak ada komentar:

Posting Komentar